Jumat, 13 Januari 2012

Surat Terakhir


D
etik jam tak pernah berubah suaranya, tapi bukan berarti waktu tak akan pernah berubah. Siang malam berlalu tanpa suara, desiran angin sudah tak mampu lagi merasakan hempasan kesedihan yang kurasa. Deraian air mata tak mampu lagi kubendung dengan  seribu Amsterdam, bahkan seluruh kata dan kalimat tak bisa lagi terungkap dengan dengan lisan.
                   Untuk Bundaku tersayang, aku sangat menyayangimu. Aku ingin selalu ada bersamamu. Bersama cinta dan kasih sayang yang selama ini kau beri untukku. Terimakasih untuk pengorbananmu selama ini. Terimakasih karna selama ini Bunda telah menjagaku, dan memberiku kehangatan dalam dinginnya malam.  Terimakasih untuk semua waktumu yang kau beri untukku.
                   Untuk ayahku tercinta, aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku memiliki seorang ayah yang hebat. Aku ingin dunia tahu bahwa aku bangga mempunyai ayah sepertimu. Ayah yang yang tak pernah lelah untuk melindungi dan menjagaku dari teriknya matahari dan dinginya malam. Ayah yang selalu tersenyum untukku dan menghapuskan semua kesedihanku. Selalu menemaniku disemua sepiku.  Ayah, aku sangat menyayangimu.
                   Untuk sahabatku, terimakasih kalian pernah ada di hidupku untuk mengisi waktu yang singkat ini. Jujur aku sangat iri dengan kalian. Kalian bisa bebas dengan semua yang kalian inginkan, dengan semua mimpi-mimpi kalian layaknya burung di angkasa sana. Sedang aku, aku bagai burung dalam sangkar yang sudah tak bisa lagi meraih semua mimpi indahku. Aku iri sama kalian, dimasa kanak kalian bisa habiskan waktu dengan bermain tanpa ada rasa lelah yang mengikat kalian. bahkan hujan sekalipun tak bisa menghalangi kalian untuk tetap bermain di luar sana. Kalian malah jadikan hujan sebagai kawan, kalian bisa tertawa lepas bersama tetesan air yang turun. Tapi aku? Aku hanya bisa berdiam diri dari balik jendela kamar dengan tetesan air mata yang setia menemaniku. Aku tersiksa dengan keadaan ini, aku terkurung dan tak bisa melepaskan diri dari berbagai obat-obatan dan penyakit yang mengrogoti tubuhku.
                   Sobat, mungkin kalian tak pernah tahu kenapa aku selalu berdiam diri di rumah, dan kenapa harus kalian yang mengunjungiku untuk bisa bermain denganku. Kalian tak pernah tahu dibalik semua tawa dan keceriaanku terselip sejuta kesedihan yang selalu menghantui hidupku. Kalian tak pernah tahu jika selama ini aku sakit. Maaf jika aku pernah menjauh dari kalian. semua itu karna aku tak mau terlihat lemah dimata kalian, aku tak ingin kalian merasakan kesedihan yang ku rasakan. Mungkin disaat kalian membaca surat ini, aku sudah tak lagi bersama kalian. Mungkin aku sudah terkubur bersama leokimia yang selama ini kuderita.  Maaf  jika selama ini aku tak pernah berkata jujur pada kalian tentang semua ini, semua ini karna lisanku sudah mampu lagi untuk mengungkap penderitaan dan semua rasa sakitku. Mungkin Allah sangat menyayangiku, sehingga aku terlebih dulu kembali padaNya.
                   Sobat, aku senang pernah mengenal kalian. aku senang pernah hadir di hidup kalian meski hanya sesaat. Sobat, meski saat ini hanya nisanku yang dapat terlihat dengan mata, tapi bukan berarti semua keindahan yang kita lalui tak padat lagi terlihat. Lihatlah dengan mata hatimu, maka semua kenangan itu akan selalu ada.
Sobat, hanya satu pesanku. Kejarlah terus cita-cita kalian selagi kalian masih bisa dan mampu untuk meraihnya, karna disaat kalian sudah tak mampu lagi meraihnya, maka semua mimpi indah itu akan hancur, semuanya akan musnah, sama seperti aku. Semua mimpiku telah hancur bersama leokimia ini. Tapi aku yakin kalian pasti bisa meraih semua itu. Teruslah bersemangat dan gapai cita-cita kalian bersama bintang-bintang. Buatlah orang tua kalian bangga dengan dirimu. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi di alam yang berbeda dan sudah tak lagi seperti hari ini. Aku sangat menyayangi kalian.
Kala hujan pasti akan berhenti,
Kala badai pasti akan berlalu,
Beringin sekalipun pasti akan tumbang,
Bahkan langit juga akan runtuh.
Semusim terlewati begitu saja,
Masih terekam dalam ingatan semua tentang kita,
Dan tawa riang yang menghiasi kepergian,
Kini aku bisa terbang bebas tanpa ada yang menghalangi langkahku,
Maafkan semua kata yang tak sempat terucap lisan,
Namun serangkai tulisan bisa membuat kalian tersenyum bahagia.


                                                                   Salam hanngat,

                                                           Aku yang menyayangi kalian


Tidak ada komentar:

Posting Komentar