| B |
entang langit terlihat bahagia menyapa pagi, poles mentari menguning di ufuk timur. Nyanyian riang burung-burung menyejukkan komposer telinga. Embun pagi masih singgah di rerumputan menyapa taman bunga yang elok dipandang. Semilir angin berdesus-desus dikulit. Ku sambut riang pagi ini dengan semangat baru dan dunia baruku. Ku tinggalkan putih biru dan pergi manuju dunia putih abu-abu yang masih asing untuk ku sapa.
Hari ini pertama kalinya aku menggunakan seragam SMA setelah aku berhasil melewati ujianku dan dinyatakan lulus. Dengan bangga ku langkahkan kaki menuju sekolah, lebih tepatnya aku bersekolah di SMA Negeri 1 Tarakan. Aku dan teman-teman masih pada tahap Masa Orientasi Siswa (MOS). Pagi ini adalah pengenalan para kakak panitia MOS. Kami semua dikumpulkan di tengah lapangan, dan saat itu juga mataku tertuju pada seorang kakak panitia yang menurutku istimewa.
“Assalamu’alaikum wr.wb. perkenalkan nama saya Indra Hermawan, kalian semua bisa memanggil saya Kak Indra. Jabatan saya disini adalah wakil ketua OSIS.” Kata kakak itu. Hatiku berdegup memandangnya.
“Oh, ternyata namanya kak Indra.” Gumamku dalam hati.
Sudah cukup lama kami berbaris di lapangan, bahkan matahari sudah tak lagi bersahabat layaknya pagi tadi. Cucuran keringat terus mengalir di tubuh.
“Sampai disini dulu perkenalan kita, setelah ini kalian boleh masuk ke kelas kalian masing-masing.”
Siswa-siswa bubaran menuju kelas.
“Huft… capek banget.” Keluhku, sambil berkipas buku.
“Hai, kenalin namaku Citra.” Sapa gadis yang duduk bersebelahan denganku.
“Aku Dinda.” Jawabku mengulurkan tangan dan tersenyum.
BRAKKkk….. suara pintu tertendang. Ternyata ada kakak panitia datang untuk memeriksa kelengkapan siswa. Suasana menjadi tegang. Wajah panitia terlihat seram, tapi tidak untuk Kak Indra. Ia tetap saja menebar senyum manisnya.
oOo
waktu terus berputar, tak terasa sebentar lagi sudah ujian kenaikan kelas. Dunia SMA ini sudah membuat banyak perubahan di hidupku, tapi tetap kunikmati semua ini dengan bahagia. Meski terkadang harus dipusingkan dengan baerbagai macam PR yang selalu bertambah setiap harinya. Belum lagi ada kegiatan ekskul dan full day pada hari-hari tertentu.
Teng… teng… lonceng istirahat menggelegar di telinga. Para siswa langsung menyerbu kantin sekolah untuk menenangkan cacing perut yang sudah bernyanyi dari tadi. Tapi hari ini aku malas pergi ke kantin. Jadi segera kulangkahkan kaki menuju musholla untuk shalat zuhur.
“Din, kamu mau kemana?” Tanya Citra sejak tadi hanya berdiri di depan kelas.
“Aku mau ke musholla Cit, mau shalat dulu.” Jawabku sambil mengeluarkan mukena dari tas.
“Kalo gitu sama-sama aja Din, aku juga belum shalat nih.” Kamipun pergi bersama-sama, saat menuju musholla kami melewati kelas Kak Indra, tapi tak kulihat dia di kelasnya. Ketika sampai di musholla ternyata Kak Indra sudah ada disitu. Tapi hanya kulewati begitu saja. Karna aku ‘kan kemari untuk shalat bukan untuk dia. Usai shalat ku lihat dia masih ada di depan musholla. Hatiku lalu berdegup-degup. Ragu-ragu aku melirik ke arahnya. Ku sangka dia akan berlaku cuek, tapi dia malah tersenyum padaku. Tapi sayang aku hanya bisa mengaguminya dari jauh saja. Ingin rasanya aku berkenalan dengan dia tapi rasanya itu hal yang tak mungkin. Mana mau Kak Indra berkenalan dengan aku, rasanya itu pasti tak penting banginya.
oOo
seiring waktu berjalan dengan irama indah. Suka cita saat SMA ini akan selalu menjadi sejarah dalam hidup. ingin kulukis senyum terindah di langit sana agar dunia tahu aku bahagia menjadi siswa SMA.
“besok kalian libur selama tiga hari. Karna kelas 3 akan melaksanakan ujian nasional.” Kata Bu Indah member pengumuman.
“Asik!” teriak semua murid serentak. Hari ini sekolah pulang cepat karna para guru pada sibuk ngurus ujian kelas 3.
oOo
“Dindaaa…” Teriak citra hampir memecahkan gengang telingaku. Citra berlari menghampiriku.
“Aku kangen banget sama kamu Din. Baru 3 hari nggak ketemu tapi rasanya uda kayak 3 tahun.” Sahut citra penuh kegembiraan.
“Lebay deh… hehe…” kami berdua langsung menuju ke kelas.
“Nggak lama lagi anak kelas 3 udah kelulusan.” Wajah Citra terlihat kusut.
“Kamu kenapa Cit? Kok muka kamu kayak belum di setrika gitu sih?” tanyaku sedikit heran.
“Sedih aja Din, ntar kalo mereka udah pada lulus berarti aku nggak bisa liat muka Kak Indra lagi.” Citra mencebibir.
“Kamu suka dia?” raut wajahku sedikit berubah.
“Cuma kagum aja sih.” Singkatnya
“Hmm… syukurlah.”jawabku batin.
oOo
“Hai Din, mau pulang yah?” sepasang mataku terbelalak saat tahu yang menegurku adalah Kak Indra. Nadiku seakan ingin terputus. Sepertinya dia sudah dari tadi ada di parkiran.
“Kak Indra. Iyah kak, aku mau pulang.” Jawabku kikuk.
“Hati-hati dijalan yah. Oh yah, do’ain aku yah biar lulus.” Aku hanya tersenyum dan pergi begitu saja.
Hari kelulusanpun tiba, ku dengar SMA 1 lulus 100%, itu berarti Kak Indra juga lulus. Sejak saat itu aku sudah tak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin kejadian di perkiran saat dia menegurku itu akan jadi yang pertama dan terakhir. Dan akan selalu terkenang dalam memori yang terindah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar