| D |
enting jam berbisik-bisik di telinga, bercerita tentang semua kenangan masa itu. Tentang semua kisah yang pernah mengisi hatiku dan juga hariku. Mengisahkan semua kesetiaan yang pernah ada untuk ku, dan semua kesetiaan yang tersia-siakan. Hati ini tak ingin menyimpan semua kenangan itu. Tapi waktu membisikkan lagi semua itu.
“Apa kau masih ingat semua kenangan bodoh itu? Apa yang kau rasakan saat itu? Saat kau harus berhianat pada sebuah persahabatan. Semua hal bodoh ketika kau harus bersembunyi dari semua rasa takutmu. Semua hal bodoh ketika kau meninggalkan persahabatan.” Bisik waktu mengingatkan aku pada masa yang terlewat.
Setahun yang lalu.
“Plisss, tolong bantu aku supaya bisa balik lagi sama Risa.” Kata seorang lelaki tak pernah ku kenal sebelumnya. Tapi aku tahu dia dulu pernah pacaran dengan Risa yang kini bersahabat denganku.
“Masa bodoh.” Batinku berceloteh melihat tingkah cowok itu.
“Ya udah kalo’ kamu nggak mau bantu aku. Tapi tolong sampaikan salam maafku buat Risa, bilang kalo aku sayang banget sama dia.” Dia pergi dan berlalu dari pandangan.
Sampai di rumah aku mengambil hand phone dan ku kirim pesan singkat untuk Risa.
-Ris, tadi aku ketemu Akbar di jalan, dia bilang kalo’ dia minta maaf sama kamu, dia juga bilang kalo’ dia masih sayang banget sama kamu.- Tekirimlah sudah SMS itu. Aku menghela nafas panjang sambil membaringkan tubuh ditempat tidur.
Tittt…Tittt… Tittt… Satu SMS masuk.
-Biar aja Tan, aku uda malas banget dengar namanya Akbar. Aku udah benci banget sama dia. Pokoknya aku nggak mau kita kenal lagi orang yang namanya Akbar!- Balas Risa yang kelihatannya masih kesal dengan Akbar. Aku abaikan SMS itu karna mataku yang sudah berat sekali dan ingin cepat tidur. Baru saja ku pejamkan mata tapi suara hand phone sudah berisik di telinga. Ternyata telpon dari nomer yang tak dikenal. Dengan bermalas-malasan aku mengangkat telpon.
“Assalamu’alaikum. Ini siapa yah?
“wa’alaikum salam. Intan yah? Ini aku Akbar, mantannya Risa.”
“Kenapa lagi sih? Aku ngantuk banget nih.” Jawabku sidikit kesal.
“Kamu udah kasih tahu Risa belum kalo’ aku masih sayang banget sama dia? Terus reaksi Risa gimana? Dia masih sayang aku nggak? Dia mau ‘kan jadi pacarku lagi?” katanya melontarkan berbagai macam pertanyaan yang membuatku pusing.
“Nggak! Dia nggak mau balik sama kamu, dia benci banget sama kamu.” Kataku ketus. Aku segera mematikan hand phone-ku dan melanjutkan tidurku dengan nyenyak.
Sejak saat itu Akbar jadi sering SMS aku untuk menanyakan kabar Risa. Terkadang dia SMS hanya untuk berbasa-basi. Semakin lama kami semakin dekat tanpa sepengetahuan Risa. Kami menjalin sebuah persahabatan baru meski harus bersembunyi dari Risa.
oOo
Satu tahun telah berlalu, sekarang semua terasa biasa saja. Aku dan Akbar semakin terbuka layaknya adik dan kakak. Desas-desis waktu terus berbisik di telinga. Ku tatap rembulan malam ini penuh keceriaan.
Tittt…Tittt…Tittt… Pesan masuk dari Akbar memecahkan kesunyianku.
-Indahnya malam ini- Dari SMS-nya saja tampak sekali dia merasa bahagia.
-kenapa?- Tanyaku singkat penuh tanda tanya.
-Aku punya pacar baru loh. Hahaha…- Jawabnya dengan girang.
-Oh ya? Bagus dong. Selamat yah, semoga langgeng- Balasku yang juga ikut bahagia mendengarnya. Tak lama SMS pun berlalu.
Setiap ada masalah Akbar selalu bercerita padaku, kami saling berbagi keceriaan dan juga kesedihan. Memang kami sudah tidak pernah lagi berjumpa sejak setahun yang lalu. Aku takut Risa tahu tentang pertemananku dengan Akbar. Dia pasti akan marah jika tahu aku ada komunikasi dengan Akbar.
Semua ketakutan terkadang menghampiriku ketika sunyi. Rasa bersalah menghantuiku karna aku merasa berhianat dengan sahabatku sendiri. Aku takut. Aku takut. Aku takut menghancurkan duniaku sendiri. Andai bisa ku ulang waktu, aku tak ingin mengenal Akbar sampai sejauh ini.
oOo
Langit sore tampak cerah, biru bahagia menyapa senja yang akan datang. Suasana di tepi danau terasa tenang menyentuh jiwaku. Sambil hunting foto, aku menghirup dan meresapi suasana yang indah ini. Air yang tenang tanpa ada ombak yang menerpa tepinya.
“Kamu kenapa nggak jadi model aja sih Tan?” Kata Amel yang dari tadi mengmbil gambar foto-fotoku.
“Hah? Model? Hahaha… Kamu nih ada-ada aja deh.” Jawabku tertawa geli.
“Kok ketawa sih Tan. Aku serius nih, kamu ‘kan cantik, modis, tinggi lagi, cocok banget jadi model.” Lagi-lagi Amel mamuji penampilanku. Aku hanya tersenyum mendengar kata-katanya. Tak lama seorang lelaki datang menghampiri tepat di hadapanku dengan sepeda motornya. Aku terkejut melihatnya. Sepertinya aku pernah melihatnya tapi entah dimana.
“Kamu masih ingat aku?” Pertanyaan yang singkat tapi mampu membuatku bertanya-tanya dalam hati. Aku semakin penasaran. Suaranya mirip sekali dengan Akbar, tapi aku masih ragu untuk menyimpulkan.
“Kamu siapa?” Aku seperti dihatui rasa penasaran.
“Akbar. Kamu lupa yah?” Jawabnya mengejutkan hatiku. Ternyata dia memang Akbar. Penampilannya memang banyak berubah jadi wajar kalau aku sedikit lupa.
“Akbar. Maaf yah, aku lupa. Kamu beda dari yang dulu. Kamu sama siapa? Sama pacar kamu yah? Mana?” Lontarku yang sudah lama penasaran ingin melihat wajah cewek yang selama ini mengisi harinya.
“Aku sama teman-teman aja kok. Kamu makin imut, makin sombong juga.” Ledeknya sambil mendekat ke arahku.
“Aku nggak sombong kok, Cuma lupa aja. ‘kan uda lama kita nggak ketemu.” Aku merasa wajahku memerah karna malu. Ku lihat Amel sudah memasukkan kamera kedalam tasnya.
“Aku udah mau pulang nih. Sudah sore banget. Matahari juga udah jadi oren.” Aku berpamitan pada Akbar dengan berharap bisa bertemu lagi dengannya dilain waktu.
“Ya sudah, hati-hati di jalan yah.” Akbar juga kembali lagi berkumpul dengan teman-temannya.
Sampai di rumah ku lihat ada SMS dari Akbar.
-Senang bisa ketemu kamu.-
-Iyah, aku juga senang bisa ketemu kamu.- Balasku singkat. SMS-pun berlanjut hingga larut malam dengan basa-basi, hinnga akhirnya aku masuk ke dunia mimpiku.
oOo
Semakin lama aku mengenal Akbar hatiku semakin banyak menyimpan pertanyaan. Ada rasa yang lain yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Satu rasa yang membuatku semakin takut untuk menyimpulkan perasaan ini. Tuhan, apa yang terjadi pada diriku? Mengapa rasa ini semakin kuat mengisi hatiku. Rasa ini membuatku semakin takut untuk melangkah. Aku ingin waktu berhenti cukup sampai disini. Aku ingin mengakhiri kebohongan ini.
“Intan…Intan…” Teriak mama memanggilku.
“Iya ma.” Aku menoleh dan kulihat mama sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Ada Risa di depan.” Kata mama. Rasanya berat kaki ini melangkah menemui Risa. Tapi dia tetap sahabatku, aku tak ingin membuatnya kecewa dengan tingkah anehku yang berusaha menutupi kedekatanku dengan Akbar.
“Risa.” Sapaku pelan.
“Intan, baru mandi ya? Pasti baru bangun juga yah. Hahaha…” Senang rasanya aku masih bisa tertawa bersama Risa.
“Ngobrol di kamarku aja yah biar lebih santai.” Ajakku. Kami-pun berjalan menuju kamar. Ku nyalakan TV agar suasana lebih santai lagi.
“Kamu pasti mau cerita sesuatu yah?” Tanyaku sambil asin menonton film cartoon.
“Iya nih Tan, tahu aja kamu.” Risa berbaring di tempat tidurku dan menghela nafas panjang.
“Apa sih yang aku nggak tahu tentang kamu. Kalo’ kamu kesini udah pasti ada maunya.” Kataku sok tahu.
Risa mulai bercerita panjang lebar tentang pacar barunya. Aku dengan santai mendengar curhat sahabatku. Risa terlihat bahagia sekali, dan sepertinya ia juga sudah melupakan kenangannya dengan Akbar. Apa harus aku berkata jujur tentang kedekatanku dengan Akbar pada Risa. Bagaimana kalau setelah itu Risa akan membenciku dan menganggapku sebagai seorang penghianat. Bagaimana jika dia akan membenciku karna kesalahan yang terlanjur aku lakukan. Lagi-lagi aku dihantui rasa takut yang berlebihan.
Tittt…Tittt… Suara hand phone mengejutkan lamunanku. Segera ku ambil dank u baca pesan yang baru saja masuk.
“Akbar.” Gumamku dalam hati. Aku taku Risa melihat pesan ini. Segera ku matikan hand phone-ku karna aku tak mau Risa tahu yang sebenarnya.
“Tan, aku pulang dulu yah. Aku mau nganterin mamaku belanja nih.” Lega rasanya aku mendengar Risa berpamitan, setidaknya aku masih bisa menahan ketakutanku untuk beberapa waktu.
oOo
Apa mungkin semua rasa suka ini berubah menjadi rasa cinta? Rasa yang berlebihan untuk ku jamah yaitu mencintai mantan pacar sahabatku sendiri. Aku tak mau menjadi penghianat. Apalagi menghianati sahabatku. Risa, maafin aku karna tanpa kau sadari aku telah menyakiti hatimu. Mungkin aku sudah tak pantas lagi menjadi sahabatmu. Aku sudah tk layak menjadi seorang sahabat yang baik untukmu.
-Hati ini bimbang dan ragu- SMS-ku kirim pada Akbar
-Aku juga merasakan hal yang sama- Balasnya beberapa menit kemudian.
-Kamu bimbang sama siapa? Pacar kamu?- Tanyaku penasaran.
- Yapzzz, aku ragu sama dia. Sifatnya beda, aku rasany udah nggak sayang dia lagi. Ada yang lain yang mengisi hatiku- Kata-katanya sedikit membuatku bingung.
-Yang lain? Maksud kamu?- Aku semakin penasaran olehnya.
-Sepertinya aku mulai menyayangimu lebih dari sahabat. Bagaimana kalau aku mancintaimu?- Mataku terbelalak membaca pesan itu. Apakah ini mimpi? Apa aku sedang berkhayal di dunia lain? Apa arti semua ini? Apa? Apa? Apa?
-Jujur aku-pun merasakan hal yang sama. Apa salah aku mencintaimu? Tapi aku nggak mau hianati persahabatanku dengan Risa.- Perasaanku sedikit lega karna telah mengungkapkan sedikit isi hatiku.
-Apa salahnya kalau kita coba? Lagian aku sama Risa juga sudah lama berlalu. Aku yakin Risa juga sudah melupakan kejadian itu- Akbar berusaha meyakinkan aku kalau semuanya akan baik-baik saja.
oOo
Aku termenung seorang diri dibalik jendela menaungi rasa bersalahku. Risa, maaf aku tak bisa menjadi sahabat yang sempurna umtukmu. Maaf aku menghianati persahabatan kita. Maaf aku melukai hatimu dengan sengaja. Rasa ini datang tanpa aku sadar dan tanpa aku sengaja. Maaf aku harus bersembunyi dari ini semua.
-Nanti sore aku tunggu kamu di danau jam 4- Ajak Akbar lewat SMS yang sudah ada dari satu jam yang lalu.
Aku lewati semua hari bersama Akbar dengan bahagia, aku sadar ini salah. Sejak itu aku semakin sering bertemu dengan Akbar. Semuanya mengalir seiring waktu menerpa musim yang terus berganti.
oOo
Tiga bulan sudah semua ini ku jalani tanpa Risa tahu yang sebenarnya. Baru sekarang semua ketakutanku menguak. Aku sudah tak dapat lagi bertahan dalam semua kebohongan ini. Aku tak ingin melangkah semakin jauh lagi walau rasa ini tak bisa aku hapuskan. Aku ingin berpaling dari cinta ini meski sakit harus jalani.
Sore ini aku akan bertemu dengan Akbar di danau. Waktu sudah menunjukkan pukul 4, pasti Akbar sudah menunggu disana. Segera ku ambil tas dan pergi menemuinya.
“Sudah lama?” Sapaku serambi mendekat kearah Akbar.
“Ngaak juga kok.” Jawab Akbar dengan pandangan sayuh seperti orang yang sedang mengantuk.
“Aku mau ngomong sesuatu.” Kataku pelan.
“Mau ngomong apa? Kok keliatannya serius amat sih.” Dia memandangku dengan tatapan penasaran.
“Jujur ini berat bagiku, tapi aku nggak sanggup lagi kalo’ harus bohongi Risa terus menerus. Aku mau kita akhiri semua.” Aku berusaha untuk tenang dan menahan air mata yang sudah di ambang kelopak.
“Maksud kamu? Kita putus?” Akbar semakin menatapku. Dia terkejut mendengarkan ucapanku,.
“Iyah.” Singakatku. Aku segara pergi meninggalkan Akbar tanpa ada penjelasan lagi. Dia hanya diam di tempat duduknya dengan wajah yang penuh kekecewaan.
Sesampainya di rumah aku mengirimkan SMS terakhir pada Akbar.
-Maaf jika aku mengecewakanmu. Tapi aku yakin ini yang terbaik untuk kita berdua nantinya.- Selesai aku mengirimkan SMS itu, aku mengganti nomor hand phone-ku dengan nomor yang baru.
Semua ini memang terasa sakit. Tapi inilah yang terbaik bagiku. Aku merasa lega akhirnya bisa mengakhiri ini semua. Kini persahabatanku dengan Risa juga semakin membaik tanpa ada lagi kebohongan. Langit hatiku kembali cerah dengan sejuta pelangi persahabatan yang selalu terlukis dalam relung jiwa. Semoga semua kebahagiaan ini akan selalu ada dan tetap hidup dalam untaian kisah terindah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar