Jumat, 13 Januari 2012

Ayahku Hebat


C
ucuran keringat tak ada hentinya membasahi tubuh. Teriknya matahari selalu bersanding hingga senja menyapa. Bertahun-tahun kau abdikan diri untuk tanah air dan untuk keluarga. Kau pergi denganS berbekal keberanian, memanggul senjata dengan gagah dan siap menerkam musuh. Segores senyum meringankan langkahmu pergi mengawali perjuangan. Berjuang demi terus berkibarnya sang merah-putih di bumi pertiwi.
          Ayah, tak ingin rasanya aku melewati hari tanpamu, melewati pagi hari tanpa nasehatmu sebelum aku pergi ke sekolah, dan tanpa ada senyum menyapaku saat akan ku langkahkan kaki. Ingin aku selalu habiskan waktu bersamamu. Menikmati hari-hari disampingmu dan selalu berkumpul dengan keluarga tercinta. Tapi kenapa semua itu hanya bisa kurasakan sesaat.
          Pernah segores sesal mengisi hatiku. Penah ada keluh dalam hati, “Kenapa aku terlahir dari seorang anak prajurit?”. Sungguh tak bisa ku nikmati hari untuk selalu bersamamu. ”Kenapa ayahku harus seorang prajurit?”. Itulah yang selalu terlintas di fikiranku. Semua pertanyaan itu membuatku semakin rindu akan dirimu.
          Terkadang aku iri pada teman-temanku. Aku sedih ketika ayah tak bisa hadir di acara sekolah. Pernah suatu ketika ada acara penghargaan untuk ku di sekolah. Teman-teman datang lengkap bersama ayah dan ibu mereka, tapi aku? Hanya ibu yang mendapingiku. Saat aku bertanya pada ayah “Apa ayah akan hadir di acara penghargaan besok?” Lalu ayah menjawab, “Maaf besok ayah harus pergi tugas, biar ibu saja yang menemanimu.” Ayah lebih memilih tugasnya dari pada aku. Apa ayah tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku sedih dan kecewa mendengar jawaban ayah. Ingin rasanya aku menangis tapi itu akan sia-sia saja. Itu akan membuat ayah lebih sedih lagi.
          Ayah, sedang apa kau disana? Ayah makan apa hari ini? Apa ayah merindukan aku, seperti aku yang selalu merindukanmu? Kapan ayah pulang? Apa ayah lelah disana? Jika aku ada disana pasti aku akan memijat pundakmu, agar tak pernah ada rasa lelah bagimu untuk terus berjuang disebrang sana.
          Semusim terus berganti menyapa detik-detik jam. Menggantikan setiap kenangan dengan sejuta kerinduan. Ku tahu ayah tetap semangat di sebrang sana. Do’aku untukmu tiada henti mengiringi setiap langkah. Setiap sujudku akan selalu ada nama ayah. Namamu akan selalu tertulis dalam ingatanku.
          Ayah, kini aku mulai menyadari betapa hebatnya dirimu. Aku bangga memiliki ayah sepertimu. Ayah yang kuat dan ayah yang pemberani. Seorang ayah yang tak pernah mengucapkan keluhan untuk apapun. Aku ingin seperti dirimu, tapi ayah selalu ingin aku jadi lebih dari dirinya.
          Untuk ayahku tercinta,
Cakap parasmu bagai raja maha agung,
Ketegaranmu mengalahkan batu karang di sudut pantai,
Demi segores senyumku,
Kau rela melakukan apapun.

Ayah, kau mentari bagiku,
Tak pernah kau rela melihatku terluka dan menangis,
Tak pernah kau izinkan setetes air mata basahi pipiku,
Bahkan setetes pun tak kau izinkan penat matahari membasuh wajahku.

Ayah, ku tahu kau lelah,
Ku tahu ada kesedihan dibalik tubuh tegapmu itu
Tapi kau tetap tersenyum untukku,
Dan berkata “ayah baik-baik saja”

Ku tahu kau hanya ingin aku tersenyum,
Kau ingin aku bahagia bersama citaku,
Ku yakin, penatnya matahari bukanlah lawanmu,
Bekunya dunia bukanlah tandinganmu.

Ayah, tak mampu sudah ku ungkap dengan kata seindah apapun,
Namun segores tinta ini mungkin mampu tuk kau mengerti,
Ayah, aku menyayangimu,
Terimakasih ayah,,,
Catatan kecil ^_^
          Seseorang mungkin akan berkata “kalo mimpi jangan tinggi-tinggi, nanti kalo jato’ bisa sakit.” Itu sih salah besar. Justru makin tinggi impian kita maka makin sulit juga terjatuh. Dengan impian yang tinggi kita maka akan jadi lebih semangat untuk mewujudkannya dalam dunia nyata. Teruslah bermimpi karna sebuah mimpi akan selalu memberimu motivasi untuk terus berkarya. Bermimpilah akan semua hal yang kau inginkan. Karna mimpi itu indah dan pastinya gratis :D
***mimpi itu seperti pelangi penuh warna dan menakjubkanJ
***mimpi akan bisa terwujud jika berpondasikan usaha, kerja keras dan pantang menyerah J
***jika matahari sudah tak lagi menerangi jalan mu, percayalah sebuah mimipi akan selalu jadi petunjukmuJ
***jika hanya lewat mimpi aku bisa sempurna, maka aku tak ingin lagi terbangun dari tidurku J

Surat Terakhir


D
etik jam tak pernah berubah suaranya, tapi bukan berarti waktu tak akan pernah berubah. Siang malam berlalu tanpa suara, desiran angin sudah tak mampu lagi merasakan hempasan kesedihan yang kurasa. Deraian air mata tak mampu lagi kubendung dengan  seribu Amsterdam, bahkan seluruh kata dan kalimat tak bisa lagi terungkap dengan dengan lisan.
                   Untuk Bundaku tersayang, aku sangat menyayangimu. Aku ingin selalu ada bersamamu. Bersama cinta dan kasih sayang yang selama ini kau beri untukku. Terimakasih untuk pengorbananmu selama ini. Terimakasih karna selama ini Bunda telah menjagaku, dan memberiku kehangatan dalam dinginnya malam.  Terimakasih untuk semua waktumu yang kau beri untukku.
                   Untuk ayahku tercinta, aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku memiliki seorang ayah yang hebat. Aku ingin dunia tahu bahwa aku bangga mempunyai ayah sepertimu. Ayah yang yang tak pernah lelah untuk melindungi dan menjagaku dari teriknya matahari dan dinginya malam. Ayah yang selalu tersenyum untukku dan menghapuskan semua kesedihanku. Selalu menemaniku disemua sepiku.  Ayah, aku sangat menyayangimu.
                   Untuk sahabatku, terimakasih kalian pernah ada di hidupku untuk mengisi waktu yang singkat ini. Jujur aku sangat iri dengan kalian. Kalian bisa bebas dengan semua yang kalian inginkan, dengan semua mimpi-mimpi kalian layaknya burung di angkasa sana. Sedang aku, aku bagai burung dalam sangkar yang sudah tak bisa lagi meraih semua mimpi indahku. Aku iri sama kalian, dimasa kanak kalian bisa habiskan waktu dengan bermain tanpa ada rasa lelah yang mengikat kalian. bahkan hujan sekalipun tak bisa menghalangi kalian untuk tetap bermain di luar sana. Kalian malah jadikan hujan sebagai kawan, kalian bisa tertawa lepas bersama tetesan air yang turun. Tapi aku? Aku hanya bisa berdiam diri dari balik jendela kamar dengan tetesan air mata yang setia menemaniku. Aku tersiksa dengan keadaan ini, aku terkurung dan tak bisa melepaskan diri dari berbagai obat-obatan dan penyakit yang mengrogoti tubuhku.
                   Sobat, mungkin kalian tak pernah tahu kenapa aku selalu berdiam diri di rumah, dan kenapa harus kalian yang mengunjungiku untuk bisa bermain denganku. Kalian tak pernah tahu dibalik semua tawa dan keceriaanku terselip sejuta kesedihan yang selalu menghantui hidupku. Kalian tak pernah tahu jika selama ini aku sakit. Maaf jika aku pernah menjauh dari kalian. semua itu karna aku tak mau terlihat lemah dimata kalian, aku tak ingin kalian merasakan kesedihan yang ku rasakan. Mungkin disaat kalian membaca surat ini, aku sudah tak lagi bersama kalian. Mungkin aku sudah terkubur bersama leokimia yang selama ini kuderita.  Maaf  jika selama ini aku tak pernah berkata jujur pada kalian tentang semua ini, semua ini karna lisanku sudah mampu lagi untuk mengungkap penderitaan dan semua rasa sakitku. Mungkin Allah sangat menyayangiku, sehingga aku terlebih dulu kembali padaNya.
                   Sobat, aku senang pernah mengenal kalian. aku senang pernah hadir di hidup kalian meski hanya sesaat. Sobat, meski saat ini hanya nisanku yang dapat terlihat dengan mata, tapi bukan berarti semua keindahan yang kita lalui tak padat lagi terlihat. Lihatlah dengan mata hatimu, maka semua kenangan itu akan selalu ada.
Sobat, hanya satu pesanku. Kejarlah terus cita-cita kalian selagi kalian masih bisa dan mampu untuk meraihnya, karna disaat kalian sudah tak mampu lagi meraihnya, maka semua mimpi indah itu akan hancur, semuanya akan musnah, sama seperti aku. Semua mimpiku telah hancur bersama leokimia ini. Tapi aku yakin kalian pasti bisa meraih semua itu. Teruslah bersemangat dan gapai cita-cita kalian bersama bintang-bintang. Buatlah orang tua kalian bangga dengan dirimu. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi di alam yang berbeda dan sudah tak lagi seperti hari ini. Aku sangat menyayangi kalian.
Kala hujan pasti akan berhenti,
Kala badai pasti akan berlalu,
Beringin sekalipun pasti akan tumbang,
Bahkan langit juga akan runtuh.
Semusim terlewati begitu saja,
Masih terekam dalam ingatan semua tentang kita,
Dan tawa riang yang menghiasi kepergian,
Kini aku bisa terbang bebas tanpa ada yang menghalangi langkahku,
Maafkan semua kata yang tak sempat terucap lisan,
Namun serangkai tulisan bisa membuat kalian tersenyum bahagia.


                                                                   Salam hanngat,

                                                           Aku yang menyayangi kalian


Kamis, 12 Januari 2012

Kakak Tampan Itu…


B
entang langit terlihat bahagia menyapa pagi, poles mentari menguning di ufuk timur. Nyanyian riang burung-burung menyejukkan komposer telinga. Embun pagi masih singgah di rerumputan menyapa taman bunga yang elok dipandang. Semilir angin berdesus-desus  dikulit. Ku sambut riang pagi ini dengan semangat baru dan dunia baruku. Ku tinggalkan putih biru dan pergi manuju dunia putih abu-abu yang masih asing untuk ku sapa.
                   Hari ini pertama kalinya aku menggunakan seragam SMA setelah aku berhasil melewati ujianku dan dinyatakan lulus. Dengan bangga ku langkahkan kaki menuju sekolah, lebih tepatnya aku bersekolah di SMA Negeri 1 Tarakan. Aku dan teman-teman masih pada tahap Masa Orientasi Siswa (MOS). Pagi ini adalah pengenalan para kakak panitia MOS. Kami semua dikumpulkan di tengah lapangan, dan saat itu juga mataku tertuju pada seorang kakak panitia yang menurutku istimewa.
                   “Assalamu’alaikum wr.wb. perkenalkan nama saya Indra Hermawan, kalian semua bisa memanggil saya Kak Indra. Jabatan saya disini adalah wakil ketua OSIS.” Kata kakak itu. Hatiku berdegup memandangnya.
                   “Oh, ternyata namanya kak Indra.” Gumamku dalam hati.
             Sudah cukup lama kami berbaris di lapangan, bahkan matahari sudah tak lagi bersahabat layaknya pagi tadi. Cucuran keringat terus mengalir di tubuh.
                   “Sampai disini dulu perkenalan kita, setelah ini kalian boleh masuk ke kelas kalian masing-masing.”
                   Siswa-siswa bubaran menuju kelas.
                   “Huft… capek banget.” Keluhku, sambil berkipas buku.
                   “Hai, kenalin namaku Citra.” Sapa gadis yang duduk bersebelahan denganku.
                   “Aku Dinda.” Jawabku mengulurkan tangan dan tersenyum.
                   BRAKKkk….. suara pintu tertendang. Ternyata ada kakak panitia datang untuk memeriksa kelengkapan siswa. Suasana menjadi tegang. Wajah panitia terlihat seram, tapi tidak untuk Kak Indra. Ia tetap saja menebar senyum manisnya.
                                                          oOo
                   waktu terus berputar, tak terasa sebentar lagi sudah ujian kenaikan kelas. Dunia SMA ini sudah membuat banyak perubahan di hidupku, tapi tetap kunikmati semua ini dengan bahagia. Meski terkadang harus dipusingkan dengan baerbagai macam PR yang selalu bertambah setiap harinya. Belum lagi ada kegiatan ekskul dan full day pada hari-hari tertentu.
                   Teng… teng… lonceng istirahat menggelegar di telinga. Para siswa langsung menyerbu kantin sekolah untuk menenangkan cacing perut yang sudah bernyanyi dari tadi. Tapi hari ini aku malas pergi ke kantin. Jadi segera kulangkahkan kaki menuju musholla untuk shalat zuhur.
                   “Din, kamu mau kemana?” Tanya Citra sejak tadi hanya berdiri di depan kelas.
                   “Aku mau ke musholla Cit, mau shalat dulu.” Jawabku sambil mengeluarkan mukena dari tas.
                   “Kalo gitu sama-sama aja Din, aku juga belum shalat nih.” Kamipun pergi bersama-sama, saat menuju musholla kami melewati kelas Kak Indra, tapi tak kulihat dia di kelasnya. Ketika sampai di musholla ternyata Kak Indra sudah ada disitu. Tapi hanya kulewati begitu saja. Karna aku ‘kan kemari untuk shalat bukan untuk dia. Usai shalat ku lihat dia masih ada di depan musholla. Hatiku lalu berdegup-degup. Ragu-ragu aku melirik ke arahnya. Ku sangka dia akan berlaku cuek, tapi dia malah tersenyum padaku. Tapi sayang aku hanya bisa mengaguminya dari jauh saja. Ingin rasanya aku berkenalan dengan dia tapi rasanya itu hal yang tak mungkin. Mana mau Kak Indra berkenalan dengan aku, rasanya itu pasti tak penting banginya.
                                                          oOo
                   seiring waktu berjalan dengan irama indah. Suka cita saat SMA ini akan selalu menjadi sejarah dalam hidup. ingin kulukis senyum terindah di langit sana agar dunia tahu aku bahagia menjadi siswa SMA.
                   “besok kalian libur selama tiga hari. Karna kelas 3 akan melaksanakan ujian nasional.” Kata Bu Indah member pengumuman.
                   “Asik!” teriak semua murid serentak. Hari ini sekolah pulang cepat karna para guru pada sibuk ngurus ujian kelas 3.
                                                          oOo
                   “Dindaaa…” Teriak citra hampir memecahkan gengang telingaku. Citra berlari menghampiriku.
                   “Aku kangen banget sama kamu Din. Baru 3 hari nggak ketemu tapi rasanya uda kayak 3 tahun.” Sahut citra penuh kegembiraan.
                   “Lebay deh… hehe…” kami berdua langsung menuju ke kelas.
                   “Nggak lama lagi anak kelas 3 udah kelulusan.” Wajah Citra terlihat kusut.
                   “Kamu kenapa Cit? Kok muka kamu kayak belum di setrika gitu sih?” tanyaku sedikit heran.
                   “Sedih aja Din, ntar kalo mereka udah pada lulus berarti aku nggak bisa liat muka Kak Indra lagi.” Citra mencebibir.
                   “Kamu suka dia?” raut wajahku sedikit berubah.
                   “Cuma kagum aja sih.” Singkatnya
                   “Hmm… syukurlah.”jawabku batin.
                                                         oOo
                   “Hai Din, mau pulang yah?” sepasang mataku terbelalak saat tahu yang menegurku adalah Kak Indra. Nadiku seakan ingin terputus. Sepertinya dia sudah dari tadi ada di parkiran.
                   “Kak Indra. Iyah kak, aku mau pulang.” Jawabku kikuk.
                   “Hati-hati dijalan yah. Oh yah, do’ain aku yah biar lulus.” Aku hanya tersenyum dan pergi begitu saja.
                   Hari kelulusanpun tiba, ku dengar SMA 1 lulus 100%, itu berarti Kak Indra juga lulus. Sejak saat itu aku sudah tak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin kejadian di perkiran saat dia menegurku itu akan jadi yang pertama dan terakhir. Dan akan selalu terkenang dalam memori yang terindah.